- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Gedung Perundingan Linggajati
- Kabupaten Bandung
- Kabupaten Bandung Barat
- Kabupaten Bekasi
- Kabupaten Bogor
- Kabupaten Ciamis
- Kabupaten Cianjur
- Kabupaten Cirebon
- Kabupaten Garut
- Kabupaten Indramayu
- Kabupaten Karawang
- Kabupaten Kuningan
- Kabupaten Majalengka
- Kabupaten Purwakarta
- Kabupaten Subang
- Kabupaten Sukabumi
- Kabupaten Sumedang
- Kabupaten Tasikmalaya
- Kota Bandung
- Kota Banjar
- Kota Bekasi
- Kota Bogor
- Kota Cimahi
- Kota Cirebon
- Kota Depok
- Kota Sukabumi
- Kota Tasikmalaya
Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
Sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Provinsi
